Home

Demokrasi di Asia sedang mendapatkan rintangan di beberapa wilayah. Di Thailand, kemelut Pemilu menimbulkan konflik horizontal terutama antara pendukung keluarga Shinawatra dan PM Thailand saat ini, Yingluck Shinawatra dari partai Pheu Thai, dengan massa penentang keluarga Shinawatra. Di Malaysia, demokrasi dinodai dengan kasus sodomi II Anwar Ibrahim yang sebenarnya telah diputus bebas oleh Pengadilan pada tahun 2012 silam. Keputusan ini berbau manuver politik untuk menghalangi Anwar berkompetisi di pemilihan sela wilayah Kajang. Selain itu, masih di Malaysia, kontroversi penggunaan kata “Allah” oleh kaum Kristiani berpotensi untuk menimbulkan konflik horizontal, ditambah lagi dengan campur tangan partai yang berkuasa, UMNO, terhadap kontroversi tersebut. Di Myanmar, kaum muslim Rohingya mendapatkan perlakuan dan tekanan dari pemerintah Myanmar. Rangkaian kejadian-kejadian tersebut sedang mengancam perkembangan Demokrasi di Asia, khususnya di Asia Tenggara.

Di Indonesia, hiruk pikuk politik menjelang Pemilu legislatif 9 April ini dan Pilpres 9 Juli mendatang diwarnai oleh munculnya sesosok tokoh kontroversial Joko Widodo yang akrab disapa dengan nama Jokowi. Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, dicalonkan oleh partai pengusungnya, PDI Perjuangan, untuk maju dalam Pilpres mendatang. Kontroversi Jokowi tidak hanya terkait seputar proses pencalonannya, tapi juga sepak terjangnya selama ini.

Jokowi selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta bersama dengan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok, telah membangun sistem birokrasi yang meminimalisir kemungkinan praktek korupsi dan kolusi. Ia mengembangkan sistem lelang jabatan untuk para birokrat Pemprov DKI beserta perangkat pengukur capaian kerja, sehingga penunjukkan pejabat Pemerintah daerah tidak lagi berdasarkan atas like/dislike ataupun kolusi, melainkan murni atas kinerja. Jokowi juga telah mengubah birokrasi dalam pengurusan izin usaha sehingga lebih sederhana, cepat, dan transparan. Di bidang transportasi, yang menjadai salah satu problem utama DKI Jakarta, walaupun kemacetan masih belum teratasi namun langkah-langkah strategis sudah dimulai dengan dimulainya proyek MRT (Mass Rapid Transport) serta penambahan armada bus Transjakarta dan bus-bus pemadu moda yang menjangkau hingga daerah-daerah pinggiran Jakarta.

Salah satu gaya kepemimpinan Jokowi yang kontroversial adalah gaya “blusukan” yang menjadi ciri khasnya. “Blusukan” merujuk pada kegiatan Jokowi untuk menyambangi langsung masyarakat di wilayah pemerintahannya untuk melihat problematika mereka dan memberikan solusi di tempat. Kegiatan ini menjadi sebuah rutinitas bagi Jokowi, dimana hampir setiap hari ia melakukan hal tersebut di masa pemerintahannya. Dengan mentode seperti ini, beberapa permasalahan seperti banjir di Jakarta mulai berkurang, sebagian dikarenakan kebijakannya tentang revitalisasi Waduk Pluit. Metode “blusukan” juga berguna ketika dalam program revitalisasi tersebut mengharuskan pemerintah untuk merelokasi warga di sekitar waduk.

Apa yang saya paparkan di atas hanya sebagian dari apa yang telah Jokowi kerjakan semasa menjadi Gubernur DKI Jakarta. Masih ada banyak hal yang telah ia kerjakan baik semasa Gubernur, maupun semenjak menjadi walikota Surakarta. Jokowi adalah tipe pemimpin yang mementingkan tindakan daripada jargon ataupun janji-janji yang muluk. Bahkan, ketika Pemilihan Kepala Daerah DKI 2012 dimana ia terpilih menjadi Gubernur, dalam kampanyenya Jokowi tidak banyak memaparkan program-porgram yang besar. Ia tidak suka berbicara panjang lebar kepada wartawan, namun entah bagaimana justru itu menjadi sangat menarik bagi wartawan hingga dalam setiap kegiatannya, Jokowi selalu diikuti oleh beberapa kalangan pers. Ekspos yang besar terhadap kegiatan Jokowi ikut berkontribusi mendongkrak popularitasnya, hingga namanya terkenal dari Sabang sampai Merauke.

Jokowi adalah simbol keresahan masyarakat. Di saat masyarakat merasa resah dengan pemimpin yang terkesan tidak pernah hadir dalam mengatasi problematika masyarakat bawah, kehadiran Jokowi dengan kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat bawah menjadi bagaikan oase di tengah gurun oplitik Indonesia. Kesederhanaan dan gaya kepemimpinannya yang lebih mengedepankan tindakan membuat sosok Jokowi menjadi populer tidak hanya di Jakarta, namun hingga seantero negeri. Tidak mengherankan PDI Perjuangan sebagai partai yang mengusungnya di Pilkada DKI 2012 menunjuknya untuk menjadi Calon Presiden di Pilpres 2014. Popularitas yang begitu tinggi tentu tidak akan disia-siakan oleh PDI Perjuangan. Bahkan, partai manapun yang mempunyai kader dengan popularitas sebesar Jokowi pasti akan mengambil langkah yang sama.

Pertanyaan besar kemudian muncul bila Jokowi nanti benar-benar maju sebagai Capres dan kemudian terpilih menjadi Presiden RI ke-7 nanti, apakah Jokowi dapat menjawab tantangan problematika Indonesia yang begitu kompleks. Apakah Jokowi dapat menjaga dan mengembangkan kehidupan demokrasi di Indonesia yang penuh dengan rintangan? Apakah Jokowi dapat mempertahankan kedaulatan Indonesia dari pengaruh dan intervensi asing? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Satu hal yang pasti, Jokowi bukanlah pemimpin yang sempurna, namun ia mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin yang besar bila ia dapat tetap dengan prinsipnya selama ini, namun di sisi lain terus beradaptasi dan berkembang untuk menyelesaikan problem-problem Indonesia yang kompleks. Bila hal itu dapat terwujud, hal itu tidak hanya menjadi angin segar bagi kehidupan sosial politik Indonesia, namun juga bagi kehidupan demokrasi di Asia, khususunya Asia Tenggara. berhasil atau tidaknya Jokowi kelak tergantung pada bagaimana rakyat Indonesia mengawal kepemimpinannya dengan terus memberikan masukan dan kritikan yang membangun, serta mengawasi kebijakan-kebijakannya kelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s