Home

Baru-baru ini, setelah Pemilihan Raya Malaysia selelsai dengan kemenangan Barisan Nasional yang unggul dalam perolehan legislature seats, media di Malaysia maupun di Indonesia ramai memberitakan tentang tuduhan mantan Wakil Presiden Indonesia HM Jusuf Kalla terhadap Anwar Ibrahim. Seperti diketahui bahwa Anwar Ibrahim yang merupakan pemimpin koalisi oposisi Malaysia Pakatan Rakyat berniat untuk terus melakukan perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan Pemilu yang terjadi di Malaysia, yang berakibat kekalahan oposisi. Anwar berjuang untuk membongkar kecurangan-kecurangan tersebut guna diadakannya Pemilu ulang yang lebih jujur dan adil. Anwar memilih untuk menggunakan jalur rally massa dengan judul “Blackout 505” untuk menggalang dukungan bagi upaya oposisi tersebut.

Dinamika politik yang ada di Malaysia memang tidak akan berimplikasi langsung terhadap Indonesia. Memang, seperti yang telah saya bahas dalam post saya sebelumnya bahwa akan ada harapan untuk hubungan yang lebih harmonis antara Indonesia dengan Malaysia apabila pihak oposisi pimpinan Anwar Ibrahim memenangkan kekuasaan. Akan tetapi, salah satu hal yang meresahkan publik kedua negara berkaitan dengan dinamika politik tersebut adalah adanya pemberitaan di berbagai media kedua negara bahwa mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengeluarkan pernyataan tuduhan bahwa gerakan “Blackout 505” Anwar Ibrahim didanai oleh pihak asing, terutama dari Filipina, Turki, Amerika Serikat, Thailand, dan RRC (Malaysian Digest) . Tak hanya itu, Jusuf Kalla juga diberitakan telah menyatakan bahwa Anwar melanggar perjanjian dengan Najib Razak yang difasilitasi oleh Jusuf Kalla sebelum Pemilu, dimana Anwar bersedia untuk tidak mempermasalahkan apapun hasil Pemilu nantinya (New Strait Times, Wall Street Journal).

Hal yang paling meresahkan berkaitan dengan pemberitaan tersebut adalah adanya campur tangan seorang mantan petinggi Republik Indonesia terhadap dinamika politik negara tetangga. Pemberitaan ini menimbulkan reaksi keras dari publik di kedua negara, terutama dari publik Malaysia tentunya. Pemberitaan ini dapat mengancam hubungan baik antar publik kedua negara dan menimbulkan ketegangan baru. Hubungan publik kedua negara memang selalu mengalami pasang-surut, seiring dengan berbagai isu meresahkan yang beredar (masih segar di ingatan kita mengenai pernyataan Zainuddin Maidin yang menghina mantan Presiden RI BJ. Habibie).

Tadi malam (18/07) saya mendapatkan kontak dari seorang sahabat di Malaysia tentang adanya surat dari Jusuf Kalla kepada Ketua Pengarang Berita Harian yang menyatakan bahwasanya tidak pernah ada wawancara antara Jusuf Kalla dengan Al-Azharrl Siddiq (dimana Berita Harian mengklaim mengutip dari artikel yang ditulis oleh yang bersangkutan) dimana dalam wawancara tersebut (menurut Berita Harian) Jusuf Kalla menuduh Anwar Ibrahim menerima dana asing untuk gerakan”Blackout 505″ dan telah terjadi pelanggaran perjanjian antara Anwar dengan Najib Razak yang difasilitasi oleh Jusuf Kalla. Lebih lanjut, JK mengatakan dalam surat tersebut bahwa “Pertemuan tersebut (1 Juni 2013) hanya silaturahim singkat karena diatur oleh seorang anggota Parlemen Indonesia.” Hal inipun juga telah diklarifikasi oleh Al-Azharri Sidiq di dalam blog-nya yang sejalan dengan isi surat klarifikasi JK tersebut. Salinan surat tersebut dikirimkan oleh sahabat saya itu bersama dengan e-mail yang ia kirim ke saya.

Kabar tersebut mengejutkan saya karena sekali lagi media Malaysia, khususnya yang berada di bawah cengkeraman partai berkuasa, mencoba untuk memelintir isu guna kepentingan politik mereka dan menempatkan hubungan masyarakat kedua negara dalam posisi yang kurang menyenangkan di saat masyarakat kedua negara sedang berusaha keras untuk membangun kepercayaan antar keduanya karena seringnya pasang-surut yang dialami. Kenyataan inilah yang harus dipahami oleh masing-masing publik bahwa pasang-surut hubungan kedua belah pihak lebih dikarenakan oleh praktek-praktek politik yang kurang etis, dan bukan mencerminkan opini asli publik. Hendaklah kita semua memetik pelajaran dari kejadian ini bahwa segala isu harus disikapi dengan kepala dingin agar kerukunan antar kedua publik tetap terjaga secara harmonis.

N.B: Salinan surat JK kepada Pemimpin Berita Harian dapat diunduh di sini. Mohon disebar-luaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s