Home
foto courtesy of vivanews

foto courtesy of vivanews

Mantan Menteri Penerangan Malaysia tak henti-hentinya menggugah emosi warga Indonesia. Setelah artikel yang ditulisnya mengenai mantan Presiden B.J Habibie yang menuai kontroversi, sekarang Zainuddin kembali menyerang mantan petinggi Indonesia, yaitu mantan Presiden RI Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui tulisan dalam blognya. Dalam tulisan tersebut, Zainuddin mengatakan bahwa Gus Dur melakukan konspirasi untuk merancang terjadinya demonstrasi reformasi 1998 Indonesia. Ia menyebut 3 konspirator dalam reformasi, yaitu Amien Rais, Gus Dur, dan Habibie.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan menghujat balik Zainuddin atas pernyataannya tersebut, maupun mencoba untuk membakar emosi rakyat Indonesia atas tulisan tersebut. Saya hanya akan mencoba untuk melihat faktor-faktor ketakutan sebagian pihak di Malaysia tentang pengaruh Alm. Gus Dur terhadap rakyat Malaysia dan mengapa faktor-faktor ketakutan itu muncul pada pihak-pihak tersebut.

Kepemimpinan Gus Dur selama menjadi Presiden RI, terutama dalam aspek tata kelola pemerintahan, mungkin masih membuka ruang bagi perdebatan. Akan tetapi, dalam aspek humanistik, bagi saya Gus Dur adalah seorang pejuang kemanusiaan. Sebagian kalangan mungkin menyebut Gus Dur sebagai simbol pluralisme, tapi menurut saya sosok Gus Dur mempunyai ketokohan yang lebih luas dari sekedar pluralisme. Tahun 1996 terjadi konflik horizontal di Situbondo, Jawa Timur, di mana 22 gereja dibakar oleh massa.  Saat itu, Gus Dur sebagai ketua dari salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU), menjadi tokoh yang meredam meluasnya konflik tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa Jawa Timur merupakan basis Nahdlatul Ulama. Bagi Gus Dur, tidak seharusnya masyarakat yang majemuk seperti masyarakat Indonesia rentan terhadap provokasi konflik berlandaskan isu agama (http://nasional.kompas.com/read/2010/10/13/14175949/Kerukunan.Umat.Beragama).

Selain dalam hal kerukunan antar umat beragama, Gus Dur juga tokoh yang berusaha untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional, antara golongan mayoritas dan minoritas. Semasa menjabat Presiden, Gus Dur mencabut Inpres no. 14 tahun 1967 mengenai pembatasan kegiatan keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa (http://id.wikisource.org/wiki/Instruksi_Presiden_Republik_Indonesia_Nomor_14_Tahun_1967). Bagi Gus Dur, etnis Tionghoa dalam kedudukannya sebagai warga negara, mempunyai status yang sama dengan etnis lainnya. Mereka juga memilik hak yang sama sebagai warga negara yang sah sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 (http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,12-id,39141-lang,id-c,buku-t,

Membaca+Gus+Dur++Tionghoa+dan+Indonesia-.phpx).

Visi Gus Dur bagi kehidupan beragama yang lebih harmonis dan terbuka serta rekonsiliasi nasional merupakan sebuah pemikiran reformis yang mendobrak tatanan sosial tertutup yang telah dikembangkan oleh pemerintah Orde Baru. Jerih payah Gus Dur dalam mewujudkan reformasi di Indonesia sudah dimulai jauh sebelum reformasi politik 1998 terjadi. Gus Dur adalah simbol reformasi di tubuh Nahdlatul Ulama. Ia mendorong bertumbuhnya budaya intelektual baru di dalam lingkungan NU. Hal ini dilakukannya dengan mendorong santri untuk mengkaji ilmu dari luar NU dan dunia Islam. Melalui usahanya tersebut, NU bertransformasi dari sebuah organisasi yang dulunya dikenal kolot dan terbelakang menjadi organisasi yang berwawasan dan kritis.

Besar kemungkinan bahwa sebagian pihak di Malaysia, terutama UMNO, khawatir dengan wacana reformasi yang sedang berkembang di negara mereka sendiri. Reformasi yang melanda Indonesia tak pelak menjadi inspirasi bagi negara-negara lain yang masih berada di bawah pemerintahan yang tak sesuai dengan prinsip demokrasi yang dicita-citakan oleh rakyat. Adalah penting bagi kelompok ini untuk membentengi rakyat dari wacana-wacana yang dapat mengancam zona nyaman kelompok tersebut. Serangan Zainuddin Maidin terhadap BJ. Habibie dan Gus Dur merupakan refleksi atas ketakutan ini.

Gus Dur menginspirasi banyak orang bahwa sebuah masyarakat yang plural dapat hidup dengan harmonis dalam kedudukan yang setara sebagai warga negara, baik kelompok mayoritas maupun minoritas. Integrasi yang berlandaskan pluralisme ini penting bagi kemajuan demokrasi sebuah bangsa serta menjauhkan dari kemungkinan-kemungkinan konflik horizontal. Akan tetapi, wacana ini tentu berbahaya bagi golongan yang mendapatkan legitimasi kekuasaan berdasarkan atas dominasi kaum mayoritas. Wacana ini akan mendorong masyarakat untuk menuntut sistem pemerintahan yang lebih demokratis dan adil, tanpa meletakkan kekuasaan hanya pada satu golongan saja. Kondisi inilah yang tidak diinginkan oleh golongan seperti UMNO di Malaysia.

Reformasi adalah sebuah keniscayaan untuk masyarakat yang hidup dalam sistem pemerintahan yang tidak sepenuhnya demokratis. Sistem pemerintahan yang menumpuk kekuasaan hanya pada satu golongan saja lambat laun akan mulai disadari sebagai ketidakadilan yang harus dilawan. Upaya-upaya untuk membendung inspirasi akan reformasi justru akan menimbulkan niatan reformasi yang semakin kuat. Hal inilah yang menurut hemat saya sedang berusaha dilakukan oleh orang-orang UMNO.

2 thoughts on “Gus Dur dan Phobia UMNO terhadap Reformasi

  1. Pingback: Gus Dur dan Phobia UMNO terhadap Reformasi | Hamchan's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s