Home

Dalam rangka HUT The Habibie Center yang ke-12, yayasan tersebut mengadakan acara pemberian penghargaan Habibie Award 2012 dan peluncuran buku “Take Off Democracy! The BJ Habibie Period”. Acara diadakan tanggal 27 dan 28 November kemarin di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta. Saya kebetulan hadir saat peluncuran buku karena ajakan seorang teman. Teman yang sama yang memberitahu saya kemarin kalau Anwar Ibrahim sedang berkunjung ke Jakarta.

Yang menarik dari perhelatan kemarin ada acara peluncuran buku, dimana The Habibie Center mengundang beberapa orang narasumber untuk memberikan komentarnya mengenai masa-masa BJ Habibie mennabat sebagai Presiden RI. Hadir sebagai narasumber adalah Prof. Dr. Bridget Welsh, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, J. Kristiadi, Dato’ Seri Anwar Ibrahim, Umar Juoro, dan Felia Salim. Anwar Ibrahim adalah satu-satunya negarawan yang diundang dalam acara tersebut.

image

image

Dalam kesempatan tersebut, Anwar Ibrahim menyebut periode pemerintahan Habibie adalah periode perubahan dimana Habibie membawa Indonesia ke arah perubahan dengan membawa demokratisasi selepas masa Soeharto. Anwar Ibrahim mengatakan bahwa pada saat itu Habibie berhasil melakukan perubahan fondasi konstitusional dalam waktu yang singkat. Tentu ini bukan sekedar pujian dari seorang sahabat. Ini adalah pujian dari orang yang pada saat tersebut bahu-membahu menghadapi krisis ekonomi dan perubahan politik. Pujian Anwar Ibrahim tersebut merupakan sebuah tingkat pemahaman yang didapatkan melalui hubungan yang intens.

Kedua pemimpin menyadari bahwa pada saat-saat sulit tersebut, Indonesia dan Malaysia sebagai negara serumpun harus bersatu dan bekerja sama untuk menghadapi masa sulit tersebut. Bisa dibayangkan bila ketika dalam masa sulit tersebut, kedua negara malah terlibat konflik. Efeknya tak hanya bagi kedua negara, tapi juga ke keseluruhan kawasan Asia Tenggara.

Kesepahaman seperti itulah yang dibutuhkan bagi kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia. Konflik antara kedua negara serumpun justru sering terjadi. Tentu hal ini tidak akan terjadi bila kedua pemimpin mempunyai tingkat kesepahaman yang tinggi seperti pada masa tersebut. Permasalahan-permasalahan seperti masalah TKI tentu tidak akan ada ketika kedua negara mempunyai rasa saling memahami yang tinggi.

Harapan tinggi layak digantungkan pada pemimpin Malaysia berikutnya, juga Indonesia yang akan berganti pemimpin di tahun 2014. Lebih mudah bagi orang yang memang mempunyai pengalaman panjang dalam hubungan kedua negara. Pengalaman itulah yang dipunyai oleh Anwar Ibrahim. Apabila beliau terpilih menjadi PM, maka layaklah kita orang Indonesia di tanah air maupun di Malaysia menggantungkan harapan pada beliau, terlebih demi perbaikan hubungan kedua negara dan perlakuan adil bagi orang-orang Indonesia di Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s